Program BDC
Dorong Tingkatkan Pendapatan Masyarakat
Workshop Business Development Center
Penanganan dan pencegahan kawasan kumuh tak
cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik semata. Pemberdayaan peningkatan
kapasitas penduduk juga tak kalah pentingnya. Melalui Program Kota Tanpa Kumuh
(Kotaku) yang digagas Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, juga dikembangkan program kegiatan
penghidupan masyarakat yakni Business Development Center (BDC). Menurut
Koordinator Kotaku Pontianak, Heri Purwanto, pengembangan BDC ini terutama
untuk memberikan layanan kepada kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
“Mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, manajemen usaha, akses
keuangan maupun akses terhadap pasar lokal, internasional dan lain-lain,”
ujarnya usai dibukanya Workshop BDC di Hotel Orchardz Gajah Mada, Rabu
(26/7/2017).
Meskipun
pengembangan kapasitas serta fasilitasi intermediasi bisnis produk-produk
unggulan yang ada di Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan telah dibina oleh
Kotaku ini sudah berjalan, namun diakuinya masih belum optimal. “Makanya kami
menggelar workshop ini sebagai langkah untuk memberikan masukan dan input
kepada komite maupun pengelola supaya Program BDC lebih baik lagi,” terangnya.
Heri
menjelaskan, dalam proses perjalanannya, selama berlangsung dan difasilitasi
oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak baru produk jenis makanan. Pihaknya
telah menitipkan dan mendisplay produk-produk untuk dijual di 184 lokasi dengan
berbagai jenis produk. Diantaranya di koperasi-koperasi, minimarket dan
supermarket, hingga di Bandara Supadio dengan memajang produk di etelase. “Kali
ini kita akan coba masuk ke Indomaret dan Alfamart. Hanya belum ada kesepakatan
sehingga ke depan pemasaran produk-produk tidak hanya di pasar modern atau
tradisional, tetapi juga di pusat jajanan atau tempat oleh-oleh,” tuturnya.
Sebagai
pelaksananya, pengelola BDC Zamrud Khatulistiwa bertugas memfasilitasi KSM yang
terlibat dalam ekonomi produktif yang kreatif dan potensial. Sedangkan
produk-produk yang dipasarkan diantaranya bahan makanan olahan atau snack, kain
tenun corak insang dan tenun songket Sambas, juga ada kerajinan tangan seperti
miniatur Tugu Khatulistiwa, meriam karbit dan sebagainya. “Kita berharap
melalui Program BDC ini bisa mendorong meningkatnya daya beli masyarakat
sehingga mampu memiliki perumahan yang layak dan menciptakan pemukiman yang
layak huni serta berkelanjutan,” tukasnya.
Wakil
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan, Pemkot Pontianak tetap
berkomitmen menjalankan program-program pemerintah pusat seperti Program Seratus
Nol Seratus, yakni 100 persen akses air bersih, 0 persen wilayah kumuh dan 100
persen akses penduduk terhadap sanitasi yang layak. “Sejak dulu pun beberapa
tahun lalu kita sudah memprogramkan untuk menolkan kawasan kumuh, baik itu yang
sudah ada maupun pencegahan-pencegahan supaya tidak bertambah banyak,”
sebutnya.
Saat
ini, lanjutnya, luas kawasan kumuh sekitar 62 hektar. Pihaknya terus berupaya
mengurangi jumlah tersebut hingga menjadi nol. Dalam Program Kotaku, selain
pekerjaan infrastruktur, juga ada pemberdayaan peningkatan kapasitas penduduk
untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. “Program pemberdayaan itu seperti
program pendidikan, kesehatan, ekonomi mikro dengan menggali, memfasilitasi dan
memberi peluang kepada pelaku-pelaku usaha yang kira-kira warga bisa berusaha
dimulai dari ekonomi mikro dan industri rumahan,” jelas Edi.
Dengan difasilitasi dan
dikoordinir oleh Satuan Kerja (Satker) Kotaku dan Tim dari BDC, pihaknya akan
bersinergi dan berkolaborasi untuk percepatan penanganan program Kotaku.
“Harapan kita bisa menihilkan kawasan kumuh di Kota Pontianak,” pungkasnya. (jim)